
Dulu saya pernah ada satu kedai tinted kereta.
Masa tu saya fikir, “asal ada orang jaga kedai, mesti jalan punya.”
Saya ambil staff, bagi gaji tetap. Setiap bulan bayar on time.
Tapi masalahnya satu…
Sales teruk.
Kereta masuk tak banyak.
Closing rendah.
Kadang satu hari langsung tak ada job.
Tapi gaji tetap kena bayar.
Masa tu saya stress. Dalam kepala fikir,
“Customer tak ada kot.”
“Market slow kot.”
“Orang dah tak minat tinted kot.”
Rupanya saya silap.
Saya tak ada data.
Saya tak tahu:
- Berapa orang walk-in sehari
- Berapa orang tanya harga tapi tak jadi
- Berapa close rate staff
- Berapa masa respon bila orang WhatsApp
- Berapa conversion ikut pakej
Saya cuma tahu hujung bulan — duit tak cukup.
Bila saya mula tengok angka barulah nampak cerita sebenar.
Lead masuk ada.
Orang tanya ada.
Tapi follow-up lemah.
Closing tak agresif.
Upsell tak dibuat.
Staff tunggu customer buat keputusan sendiri.
Gaji RM2,500 sebulan.
Sales kadang RM8,000 – RM10,000 sahaja.
Tolak kos sewa, elektrik, bahan tinted…
Margin jadi nipis sangat.
Kalau masa tu saya ada data insight, saya boleh nampak awal:
- Close rate cuma 15%
- Response lambat lebih 30 minit
- Repeat customer hampir kosong
- Tiada tracking performance harian
Masalah bukan market.
Masalah bukan produk.
Masalah sistem dan KPI tak jelas.
Dan paling penting…
Saya buat keputusan HR ikut rasa.
Kadang saya marah.
Kadang saya kesian.
Kadang saya tahan sebab “tak sampai hati”.
Tapi bisnes tak boleh jalan guna perasaan.
Sejak tu saya belajar satu benda besar:
HR tanpa data = kita bayar gaji untuk harapan.
HR dengan data = kita bayar gaji untuk hasil.
Sekarang bila ambil staff, saya pastikan ada:
- KPI jelas
- Target angka
- Weekly review
- Dashboard performance
Kalau perform, saya reward.
Kalau tak perform, saya ada bukti untuk coaching.
Kalau masih tak berubah — keputusan jadi objektif.
Bukan sebab benci.
Tapi sebab angka bercakap.
Itu lah pentingnya data insight untuk HR.


